HEADLINE: Guncangan Kedua Lebih Kuat, Gempa Lombok Fenomena Luar Biasa?

Gempa Lombok ternyata tak berhenti sebagai bencana alam. Di media sosial, dua kali gempa Lombok juga menjadi topik yang menyerempet ke wilayah politik. Gempa Lombok diseret dan dijadikan pembenar untuk asumsi yang dangkal, jauh dari pemahaman ilmu pengetahuan yang sudah galib diketahui.

Lihat saja, tak sulit menemukan postingan di media sosial seperti Twitter atau Facebook yang menyebutkan gempa Lombok terjadi karena dampak saling dukung menjelang Pilpres 2019. Postingan itu hanya menghubung-hubungkan peristiwa, tanpa ada penjelasan ilmiah sama sekali. Namun, fenomena tersebut dianggap biasa oleh Mbah Rono.

“Indonesia itu kalau enggak heboh enggak seru. Ibarat nonton film, kalau enggak ada tembak-tembakan atau perangnya, enggak seru. Pilpres pun kalau enggak heboh ya nggak seru. Kalau bisa diseru-serukan, semua ditarik-tarik,” ujar Mbah Rono.

Dia mengatakan, Tuhan itu maha adil, bencana itu kenyataan dari Tuhan, namun kita juga diberi akal untuk menganalisa. “Jadi jangan begitulah, kasihan gempa atau gunungnya,” ujar dia.

Dia menegaskan, tak ada hubungan antara gempa Lombok atau di manapun dengan proses politik yang tengah berjalan. Gempa itu adalah isyarat alam yang tak bisa ditolak, sehingga sangat jauh hubungan dengan persoalan politik.

“Apa gara-gara ada kabar itu terus terjadi gempa? Kan tidak. Memang daerah itu sering terjadi gempa, mau ada pilpres atau tidak, dari dulu ada gempa. Tak usahlah bikin kaya gitu, kasihan masyarakat, sudah sengsara dikaitkan lagi dengan bencana, yang mau nyalon ya nyalon saja,” tegas Mbah Rono.

Di sisi lain, dia tak menampik bahwa persoalan politik bisa menjadi topik yang menarik untuk menjadi bahasan, apalagi untuk politikus yang tengah merintis jalan menuju kekuasaan. Dia mencontohkan acara debat di televisi, entah debatnya benar atau salah, dia memastikan ratingnya bakal tinggi.

“Padahal, kadang-kadang isinya entah apa itu, pusing saya. Syukur saya bukan tokoh politik, kalau saya tokoh politik, batuk pun pasti akan dianalisa,” gurau Mbah Rono.

Sementara itu, peneliti gempa dari LIPI, Danny Hilman mengatakan mudahnya menyeret masyarakat dengan pemahaman gempa yang salah karena pengalaman akan proses gempa masih sangat minim.

“Jadi, orang itu masih sangat awam, gempa itu apa sih? Sumbernya apa? Kenapa bisa jadi gempa? Sebagian orang pada enggak ngerti, jadi artinya harus ada edukasi yang lebih mendasar. Mungkin dari SD sudah harus diajarkan gempa itu apa, sehingga semua orang jadi tahu,” papar Danny.

Jika masyarakat sudah teredukasi dengan baik soal gempa, lanjut dia, mereka tak akan mudah lagi terpengaruh dengan asumsi atau analisa dangkal yang menghubungan gempa dengan hal-hal yang non-ilmiah.

“Kalau dibandingkan dengan Jepang, anak-anak SD itu sudah pada paham gempa itu apa, sehingga cerita klenik atau yang dihubungkan dengan politik macam-macam itu tidak ada,” cerita Danny.

Sementara,  menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, pihaknya tak kurang-kurang selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang apa sebenarnya yang terjadi ketika gempa itu terjadi.

“Kami terus menjelaskan sejak tsunami Aceh dulu bahwa pergerakan lempeng itu memang ada, patahan itu memang ada. Dan itu bisa diukur dari sensor-sensor yang mencatat kejadiannya,” jelas Dwikorita.

Dengan semua itu, BMKG menurutnya ingin memberi pemahaman bahwa gempa adalah proses alam yang tak bisa diprediksi kapan atau di mana akan terjadi, namun bisa dipahami dengan ilmu pengetahuan yang ada.

“Jadi itu bukan alam gaib, itu alam nyata, karena bisa diukur dengan alat yang kasat mata,” tegas Dwikorita.

Agen SBOBET judi bola casino online dengan daftar sbobet terbaik terbesar terpercaya indonesia resmi dan se asia dunia internasional