Negosiasi Baru AS dengan Tiongkok Diperkirakan Dorong Rupiah Menguat

JawaPos.com – Perdagangan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai bangkit perlahan dengan memanfaatkan pelemahan dolar. Mengutip Bloomberg, saat ini rupiah menguat di posisi 14.827 per dolar AS.

Analis Forex Time Lukman Otunuga mengatakan, kelegaan terasa di berbagai pasar finansial menyusul berita terkini Amerika Serikat mengajukan negosiasi dagang baru dengan Tiongkok. Berita ini berdekatan dengan sorotan bahwa Amerika Serikat dan Kanada semakin mendekati kesepakatan dagang, yang membuat Dolar melemah terhadap mata uang lainnya.

“Ketegangan dagang sejak lama terlihat sebagai faktor pendorong apresiasi Dolar, dan indikasi bahwa pemerintahan Trump sudah tidak terlalu agresif memicu ketegangan dagang dianggap negatif untuk Dolar,” ujarnya Jumat (14/9).

Negosiasi Baru AS dengan Tiongkok Diperkirakan Dorong Rupiah MenguatIlustrasi mata uang rupiah dan USD (DOK. ISSAK RAMADHAN/JAWAPOS.COM)

Sementara berita Washington berkomunikasi dengan Beijing untuk melanjutkan negosiasi dagang mendorong Yuan dan berbagai mata uang Asia menguat.

Menurutnya, Ini bukan pertama kalinya kita melihat optimisme karena negosiasi Washington dan Beijing, yang kemudian justru meningkatkan ketegangan dagang, namun investor sepertinya ingin tetap optimis bahwa kesepakatan mengenai masalah yang telah berlarut-larut ini dapat segera tercapai.

“Wacana ini secara umum memberi sentimen positif karena kedua belah pihak bersedia untuk mengurangi ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia,” tuturnya.

Sementara di Indonesia, kata dia, Rupiah sedikit menguat karena optimisme terhadap membaiknya hubungan AS-Tiongkok dan Dolar yang melemah. Walaupun Rupiah dapat semakin menguat di jangka pendek, namun peningkatannya tetap terancam oleh berbagai faktor eksternal.

“Federal Reserve diperkirakan akan meningkatkan suku bunga bulan ini dan gejolak di pasar berkembang membebani sentimen pasar, sehingga Rupiah tetap rentan melemah,” imbuhnya.

Bank Indonesia sudah meningkatkan suku bunga empat kali sejak pertengahan Mei sebagai upaya untuk mencegah Rupiah semakin melemah. Ada kemungkinan bahwa BI akan bertindak lagi tahun ini, terutama mengingat bahwa AS masih mungkin meningkatkan suku bunga dua kali lagi.

“Walaupun kenaikan suku bunga BI dapat membantu Rupiah, namun tindakan ini dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Di bagian dunia lainnya, Dolar melemah terhadap sekeranjang mata uang mayor karena data ekonomi yang mengecewakan mengurangi ekspektasi potensi kenaikan suku bunga AS di bulan Desember.

“Ketegangan dagang tetap menjadi faktor penggerak utama untuk Dolar di jangka menengah dan jangka panjang,” tandasnya.

Indikasi optimisme mengenai perdagangan akan dianggap mendorong peningkatan sentimen risiko, dan dapat membuat investor untuk mengurangi kepemilikan safe haven yaitu Dolar.

(mys/JPC)